Agus Abdulloh


Pada awal saya mengenal ruqyah Metode Quranic Healing, saya sering mempraktekkan self healing/ruqyah mandiri. Tetapi tidak ada reaksi apa saat saya melakukannya, padahal saya merasakan ada sesuatu yang
aneh pada diri saya. Saya pernah mengikuti aliran sesat dan belajar beladiri Tenaga Dalam pada aliran sesat tersebut. Al hasil, saya bisa merasakan keberadaan makhluk ghoib dan jenisnya, bisa menerawang, dll.


Suatu saat ketika saya ke Warnet karena suatu tugas, saya sambil membuka Youtube tentang ruqyah dan ketemu Youtube Ustadz Fadhlan saat meruqyah Supiyati manusia paku. Sayapun meniatkan diri saya untuk meruqyah melalui suara dari Youtube tersebut. Suara saya maksimalkan, headset saya pasang di telinga, dan saya khusuk dalam mendengarkan bacaan-bacaan Al Quran yang dibacakan oleh Ustadz Fadhlan saat meruqyah Supiyati.

Saya hanya mendengarkan saya, tidak ada gerakan tangan saya dengan teknik tertentu sama sekali. Hanya mendengarkan saja. Baru sebentar saya mendengarkan, perut saya mual-mual. Semakin lama rasanya semakin mual. Akhirnya saya muntah lumayan hebat di bilik Warnet. Saya khusuk lagi dalam mendengarkan dan saya muntah lagi. Pada muntahan ketiga, plastic tempat muntahan jatuh ke bawah dan saya cari-cari tidak ketemu. Akhirnya saya muntahkan di lantai padahal lumayan banyak. Sejak saat itu, saya sensitif klo ruqyah mandiri. Klo ada sesuatu yang saya merasa tidak beres pada diri saya, saya ruqyah mandiri dan mudah muntah.

Dari pengalaman saya tersebut saya mengambil kesimpulan bahwa:
1. Saat meruqyah itu harus konsentrasi penuh pada ruqyah,
2. Benar-benar berharap pertolongan kepada Alloh,
3. Bacaan yang lantang saat meruqyah.

Cerita di atas adalah pengalaman pribadi saya saat awal mengetahui Quranic Healing. Bisa jadi 3 kesimpulan saya di atas berbeda satu sama lain.

Post a Comment