PENGALAMAN MERUQYAH DAPAT DIJADIKAN KAIDAH !
=======================================
Memang benar bahwa kaidah ruqyah itu sudah baku dan prinsip-prinsip dasarnya sudah terbangun secara permanen (ats-tsawaabit) berdasarkan sunah qauliyah,fi'liyah dan takririyah, namun kaidah ruqyah itu dalam prakteknya dapat diracik (dikombinasi/digabungkan) dan menghasilkan metode baru yg tidak bertentangan prinsip dasar qauliyah,fi'liyah dan takririyah Rasulullah.

Seperti Rasul mengajarkan metode usapan, tiupan dan tepukan maka seorang peruqyah dapat meraciknya (menjadi metode/tehnik tertentu) untuk mengatasi penyakit tertentu. Contoh : pasien sakit kepala maka terlarang melakukan tehnik tepukan sebab nanti malah semakin sakit namun lakukan tehnik tempelan dan tiupan sembari membaca ayat ruqyah. MAKA lahirlah kaidah khusus dan diberi nama khusus seperti TEHNIK MERUQYAH SAKIT KEPALA.


Saya mengkritisi perkataan seorang ustadz yang menjelaskan:"Hanya saja, seorang peruqyah tidak boleh dengan serta merta memantapkan suatu inovasi dan pengalamannya menjadi sebuah aturan atau kaidah yg harus dibakukan" .

Saya justru menganggap kaidah/metode yang tepat itu harus dibakukan dan dibuat aturan sebab jika sesuai dengan sunnatullah metodenya tepat maka daripadanya akan terjadi kesembuhan dengan Izin Allah. Dalilnya dari riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah dia berkata bahwa Nabi bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ، بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

Wallahua'lam..........

Post a Comment