Dahulu dikalangan bani israil ada seorang penjahat dan seorang ahli ibadah (abid), karena kesalehanya si abid setiap kali berjalan selalu dinaungi awan.
Pada suatu hari bertemulah kedua orang ini, si penjahat berkata kepada dirinya "aku ini adalah seorang durhaka sedangkan ia adalah ahli ibadah biarlah aku duduk didekatnya biar Allah merahmatiku", ia pun duduk disamping si abid.
Sedangkan si abid dengan memandang rendah berkata dalam hatinya," aku ini seorang abid, sedangkan ia seorang durhaka, mana boleh ia duduk disampingku." Allah kemudian mewahyukan kepada nabi dizaman itu, "Perintahkanlah keduanya untuk beramal lagi karena sesungguhnya Aku telah mengampuni dosa2 penjahat itu dan menggugurkan amal si abid".
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa pada waktu mereka beranjak pergi, awan yg sejak tadi berada diatas abid berpindah menaungi sang penjahat.
(Al Ghazali, ihya ulumuddin bab3).
Ibrohnya janganlah kita merasa manhaj kita paling baik dari orang lain dan selamat didunia dan akhirat lalu mulai menghajr (memboikot) sesama muslim sebab dianggap hizbi atau tidak sefirqah , jangan menganggap amalan kita paling sempurna lalu memandang rendah orang lain yang pendosa sebab amalan kitapun tak ada jaminan diterima Allah dan bisa jadi malah pertaubatan seorang pendosa amalan ibadahnya malah diterima Allah.
Saya tidak tahu apakah kisah diatas benar terjadi atau tidak namun setidaknya kisahnya bisa dijadikan ibroh.
Saya pribadi bertobat dari sikap merasa paling salaf lalu merendahkan , menista , menghina orang lain yang dianggap tidak semanhaj.

Post a Comment