Nasihat Untuk Praktisi Ruqyah 
KEUTAMAAN BERSIKAP IKHLAS KETIKA PENERAPI PASIEN

   

1. Membentengi Praktisi Ruqyah dari Godaan Setan.
 “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka”.” (QS. Al Hijr: 39 – 40)

 Iblis telah bersumpah akan menyesatkan seluruh keturunan Nabi Adam AS, namun Iblis pun mengakui bahwa orang-orang yang ikhlas akan selamat dari godaannya tersebut. Maka Ikhlaslah karena hanya mengharap ridho Allah Subhannahu wata’ala, jangan mengharap imbalan, mengharap pujian, riya’. ketika menerapi pasien maka kita akan dilindungi Allah Subhannahu wata’ala dari tipu daya Iblis dan bala tentaranya.

2. Mengubah setiap amal perbuatan ketika menerapi menjadi bernilai ibadah. 
“Dan tidaklah engkau memberi nafkah dengan mengharapkan wajah Allah kecuali engkau mendapatkan pahala, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR. Muslim)
“Barangsiapa mempersiapkan dan memelihara seekor kuda untuk digunakan di jalan Allah semata-mata karena iman kepada Allah dan percaya dengan janji-Nya, maka kenyangnya kuda itu, hilangnya dahaga, hingga kotoran dan kencingnya akan tercatat dalam timbangan kebaikan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

Setiap gerakan ketika menerapi, semua tehnik yang kita lakukan, segala bentuk prilaku dan tindakan (treatment) ketika menerapi akan bernilai ibadah dan berpahala ketika kita ikhlas karena Allah Subhannahu wata’ala .

 3. Mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala di saat mendapatkan kesulitan ketika menerapi. 

 Ikhlas adalah kunci pertama yang paling penting bagi terbukanya pintu pertolongan Allah dalam prosesi terapi ruqyah. Nilai suatu prosesi pengobatan ruqyah sangat tergantung dari kadar keikhlasan praktisinya.

Apabila praktisinya tidak memiliki niat yang ikhlash, maka amalnya akan sia-sia dan tidak akan mendapatkan pertolongan Allah ketika menerapi pasien malah justru mendatangkan siksa. Ketika melakukan terapi penyembuhan tapi ia berniat melakukannya untuk popularitas atau kepentingan duniawi lainnya (mengharapkan imbalan).

Orang seperti ini, tidak akan mendapat pertolongan Allah. Dengan kata lain, wujud keikhlasan tidak bisa terlihat sekadar bila seseorang melakukan sesuatu pekerjaan yang berat dan menanggung risiko. Bahkan dalam medan jihad, dalam sebuah hadits pernah diceritakan kisah seorang pemuda yang terlihat gagah berani di medan pertempuran. Namun Rasulullah mengatakan pemuda itu adalah penghuni neraka. Di akhir pertempuran, para sahabat mendapati pemuda itu menghunus pedangnya ke tubuhnya sendiri lantaran tak kuat menahan luka.

4. Hati yang tenang dan tenteram. 

Orang yang ikhlas menerapi pasien hanya mengejar ridha Allah Subhannahu wata’ala semata, sehingga tujuannya fokus dan tidak dibingungkan oleh berbagai fitnah dunia. Hati yang tenteram karena keikhlasan akan memunculkan manusia yang memiliki kekuatan jiwa dan mental yang kuat..

Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata, bersabda Rasulullah ﷺ “Tuhan kita takjub kepada seseorang yang berperang di jalan Allah lalu pasukannya kalah. Ia pun memahami apa yang telah menimpanya, maka kembalilah ia ke medan perang sehingga darahnya menetes. Allah Subhannahu wata’ala berfirman kepada malaikat, ‘Lihatlah hamba-Ku. Ia kembali ke medan perang karena menginginkan apa yang ada pada-Ku (pahala) dan takut atas apa yang ada pada-Ku (murka), sampai meneteslah darahnya. Aku bersumpah di hadapan kalian bahwa Aku telah mengampuninya’.” (HR. Abu Dawud)

Jangan pernah gusar dan sedih ketika menerapi kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita belum berhasil mengeluarkan jin, menghancurkan kekuatan sihir atau menyembuhkan penyakit tertentu pada kasus-kasus berat yang dialami ketika menerapi pasien. Sebab Allah Subhannahu wata’ala akan melihat keteguhan mental kita yang pantang menyerah. Buatlah Rab kita menjadi takjub ketika kita tetap tegar dan ikhlas karena Allah Subhannahu wata’ala dan terus berusaha pantang menyerah di “medan perang” ketika meruqyah sampai mendapatkan kemenangan dari Allah Ta’ala.

 Perdana Akhmad, S.Psi 

(Founder QHI, Mudir Ma'had Pendidikan Al-Abror)

Post a Comment