Peruqyah, Ilmu dan Profesionalisme
=========================
Seorang ustadz atau kyai seharusnya menjadi ensiklopedi Islam yg berjalan. Orang Arab menyebutnya "rajul mausu'iy". Sekurang-kurangnya memahami apa yg dihadapinya secara global dan tidak buta sama sekali.
Dia harus punya keunggulan tersendiri dr Orang Lain.
Seorang ekonom akan menulis dan berbicara ttg ekonomi. Politikus akan berbicara dan menulis ttg politik. Seniman akan menulis dan berbicara ttg seni. Dokter atau ahli kesehatan akan berbicara ttg kesehatan dan pengobatan.
Jika mereka harus berbicara ttg Islam, maka akan selalu memunculkan ciri khasnya sesuai bidang yg digelutinya spt ekonomi Islam, politik Islam, seni Islam, kedokteran Islam dan sebagainya...
Adalah seorang peruqyah dan terapis Al-Qur'an sepatutnya juga memiliki kemampuan memahami dan menularkan apa yg dia pahami dr profesi dan keahliannya. Tapi melihat masalah yg dihadapinya sangat beragam dan multi masalah, maka dia dituntut lebih profesional serta mendalami banyak hal. Tidak terkecuali politik, ekonomi, budaya, seni dan  sebagainya.
Mungkin peruqyah lain tidak menyadari hal ini. Tapi saya sangat sangat menyadari betapa banyak tuntutan ilmu yg mesti saya pelajari. Karena masalah dan orang yg punya masalah tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya. Karena itu, saya mesti banyak tahu ttg itu. Kadang saya merasakan kekurangan itu saat saya tidak bisa memahami problema yg dihadapi seorang pasien berkaitan dgn kehidupannya.
Menjadi peruqyah sekedar meruqyah sangat berbeda dgn peruqyah tapi mendalami ilmu ruqyah dan memahaminya secara profesional. Bukan asal-asalan dan sekedar ingin memenuhi pasar yg memerlukan.
Karena itu, saya selalu dan tidak bosan-bosan mengajak semua praktisi ruqyah :
1. Jadilah seorang profesional yg berilmu.
2. Gunakan waktu mu belajar dan terus belajar.
3. Mari sama-sama kita mengisi kekurangan.
4. Bisnis boleh tapi belajar ttg kekurangan kita sangat penting.
5. Jangan pernah merasa puas jika saat ini kita berada diatas.
Satu hal yg sangat menentukan profesionalisme seorang peruqyah adalah pemahaman nya ttg Al-Qur'an dan ilmu-ilmu al-Quran. Bagaimana mungkin dirimu melakukan terapi quran tapi ilmu dan pemahamanmu ttgnya sangat minim. Sama halnya seorang dokter tapi tidak mengerti ilmu anatomi tubuh. Sama halnya dgn ahli ahli dibidang lain yg tidak memahami apa yg dilakukannya.
Itulah profesionalisme dan seorang peruqyah harus punya itu.
Jika tidak demikian, kita akan direndahkan dan dianggap hanya sebagai dukun yg pandai merafalkan mantera. Nilai kita akan diukur dari penampilan kita, bukan dari ilmu dan Profesionalisme kita sbg peruqyah yg mendamaikan tauhid.
Bukan kah kita sering ditanya "Berapa maharnya pak?". Saya tidak akan menjawab pertanyaan spt ini karena saya anggap melecehkan dan merendahkan al-Qur'an.  Dia menilai ruqyah (ayat - ayat Quran) sama seperti komat kamit Mbah Dukun yg dihargai dgn mahar.
Kalau kamu mau ruqyah, silahkan datang dan kamu akan menemukan nilai nilai pengajaran Islam disana. 
Kita akan temukan kekosongan spritual dlm dirinya dan kemudian kita isi dgn nilai-nilai Islam.
Jika kita tidak punya, apa yg Akan kita beri.
"Faqidus syai' laa yu'thiy" (Orang yg tidak punya, tidak akan bisa memberi).
Masha Allah, begitu berat bagi saya jadi peruqyah yg betul betul profesional tapi setidaknya saya terus membenahi kekurangan diri dari berbagai aspek :
- Ruhiyah (Spritual) yakni iman dan ibadah.
- Ilmu Pengetahuan.
- Profesionalisme
Apakah anda - wahai saudaraku praktisi ruqyah - merasakan hal yg sama?
=============
Medan, 6 Ramadan 1439 / 22 Mei 2018
Musdar Bustamam Tambusai
(Founder MATAIR/ Majlis Talaqqi Ilmu Ruqyah)

Post a Comment